FILSAFAT SAINT

Posted in KAJIAN ILMIAH with tags on 7 Juni 2009 by edypras

HunzikerXP

PERBEDAAN BUDI DAN PERASAAN 

Oleh : Edy Prasetyo

 

B u d i  :

Menurut John M. Echols dan Hassan Shadily (1998), budi = mind, reason, right thinking. Mind = pikiran.  Reason = sebab, alasan.  Right thinking = berpikir benar.  Budi merupakan produk dari prasangka yang bersifat positif, sebagai hasil dari aktivitas baik (terpuji) terhadap suatu obyek yang munculnya disengaja maupun tidak disengaja. Prasangka dapat bersifat positif dan atau bersiat negatif.  Sedangkan prasangka itu sendiri merupakan produk pikir manusia. Dengan demikian budi juga merupakan produk pikir secara baik dari manusia.

Manusia untuk dapat berpikir baik, yakni berpikir korektif dan logis-dialektis dibutuhkan kondisi-kondisi tertentu sebagai berikut :

  1. Cintailah kebenaran.
  2. Ketahuilah secara sadar apa yang sedang dikerjakan.
  3. Ketahuilah secara sadar apa yang sedang dikatakan.
  4. Buatlah distingsi (pembedaan)  dan pembagian secara semestinya.
  5. Gunakanlah dan cintailah definisi-definisi secara benar.
  6. Ketahuilah secara sadar mengapa harus menyimpulkan begini atau begitu.
  7. Hindarilah kesalahan-kesalahan dengan segala usaha dan tenaga, serta berusahalah untuk mengenali jenis, macam, dan nama kesalahan, demikian pula mengenali sebab-sebab kesalahan pemikiran.

 

Contoh-contoh budi adalah :

  1. Sebagai seorang ilmuwan yang melakukan penelitian secara valid dan reliable, untuk membantu mencarikan solusi permasalahan pembangunan subsektor peternakan bagi suatu pemerintah daerah.
  2. Sebagai seorang dosen yang mempunyai kinerja dan aktivitas maksimal demi kepentingan institusi tempat bekerja, sehingga mampu mengangkat institusi tersebut ke jenjang peringkat yang terpuji.
  3. Sebagai seorang guru besar yang mampu mencurahkan pikiran dan tenaganya demi kepentingan dan kemajuan lingkungan tempat tinggalnya, tanpa pamrih apapun.

 

P e r a s a a n  :

Menurut John M. Echols dan Hassan Shadily (1998), perasaan = sense of touch, sensitive person, feeling.  Touch = sentuhan.  Sensitive = peka.  Feeling = perasaan. Perasaan adalah rasa tidak menentu dan belum diketahui dampaknya secara pasti, yang bersumber dari suara hati (umumnya bersifat sensitive/peka) terhadap adanya perubahan-perubahan yang terjadi di lingkungannya.  Perubahan-perubahan tersebut dapat diciptakan/ditimbulkan oleh aktivitas manusia, alam, maupun binatang.

Dampak dari perasaan dapat bersifat positif maupun bersifat negatif, dan sangat tergantung oleh kemampuan manusia dalam mengolah hatinya.  Perasaan yang dapat memuncukan dampak positif yang idealnya dipelihara, dibandingkan perasaan yang memunculkan dampak negatif.  Untuk memunculkan perasaan yang positif, maka sebagai prioritas utama manusia harus beriman kepada Sang Pencipta.

 

Contoh-contoh perasaan yang bersifat positif adalah :

  1. Munculnya rasa puas yang bersumber dari hati seorang peneliti terhadap hasil penelitian, karena penelitian yang dilakukan menggunakan metodologi yang benar dan up to date.
  2. Munculnya rasa puas yang bersumber dari hati seorang dosen terhadap aktivitas proses belajar yang dilakukan, karena proses belajar tersebut dipersiapkan secara baik.

 

Contoh-contoh perasaan yang bersifat negatif adalah :

  1. Munculnya rasa was-was pada seorang peneliti yang akan mempresentasikan hasil penelitiannya, karena merasa bahwa penelitian tersebut tidak dilakukan sesuai dengan metodolologi yang seharusnya dilakukan.
  2. Munculnya rasa was-was pada seorang dosen yang akan memberikan kuliah, karena merasa bahwa materi perkuliahan tidak dipersiapkan secara baik.

 

Kesimpulan :

Jadi, perbedaan secara prinsipiil antara budi dengan perasaan adalah :

  1. Budi, merupakan produk dari suatu aktivitas manusia yang dilakukan secara sengaja maupun tidak sengaja, namun hasilnya bersifat positif.
  2. Perasaan, merupakan rasa (sensitiveness) terhadap hasil suatu aktivitas yang bersumber dari hati, yang hasilnya dapat bersifat positif maupun bersifat negatif, tergantung dari upaya yang dilakukan oleh yang bersangkutan.
 
   

FILSAFAT SAINT

Posted in KAJIAN ILMIAH with tags on 2 Juni 2009 by edypras

Tom-Jerry-tv-06 

MANUSIA dan PENGETAHUAN   

Oleh : Edy Prasetyo
Eksistensi manusia di bumi hanyalah merupakan satu mata-rantai dari begitu banyak mata-rantai kehidupan.
Keberadaan manusia di bumi ini bukanlah atas kemauannya ataupun kemauan orang lain, namun atas kemauan Sang Maha Pencipta (Allah SWT).
Apa peranan manusia di bumi ini ?  Jawaban dari pertanyaan tersebut dapat dirunut dari perintah-perintah yang diturunkan Nya, antara lain : Bacalah atas nama penciptamu, yang telah menciptakan manusia dari segumpal nutfah, bacalah !  Dan Tuhanmu Sangat Pemurah, yang mengajarkan penggunaan kalam, mengajari manusia hal-hal yang diketahui olehnya. (Al ‘Alaq [96] : 1-5).
Kalam Allah secara langsung tidak dapat dilihat, dan yang tampak adalah bekas goresan yang ada disekitar kita, yaitu berupa semua kejadian yang dapat kita amati di alam semesta.
Itulah sebabnya, manusia pada mulanya belajar mencoba menemukan pengetahuan secara tidak sadar berdasarkan pengalaman.
Manusia diminta oleh Sang Maha Pencipta untuk berusaha membaca semua bekas kalam Nya di alam semesta ini sebagai pewaris Nya.  Untuk apa ?  Jawabnya : Agar semua alam ini dapat terpelihara dari segala kerusakan.  Untuk itulah manusia dilengkapi Nya dengan akal untuk berpikir dan memburu pengetahuan.
(Disarikan dari tulisan Prof. Dr. Ir. Andi Hakim Nasoetion, MSc., 1988)

ROADMAP AGRIBISNIS

Posted in KAJIAN ILMIAH with tags on 30 Mei 2009 by edypras

DSC01444 A

ROADMAP PENGEMBANGAN KOMODITAS AGRIBISNIS KOTA PEKALONGAN JAWA TENGAH (The Road Map of Agribusiness Commodities Development in Pekalongan Municipality, Central Java)

(Dibiayai oleh Pemerintah Kota Pekalongan Jawa Tengaheh :

Oleh :

Edy Prasetyo, Titik Ekowati, Mukson, Wahyu Hidayat

  

RINGKASAN 

      Road Map Pengembangan Komoditas Agribisnis Kota Pekalongan Jawa Tengah, 2007.   Tujuan penyusunan Road Map ini adalah  : (i) sebagai  instrumen perencanaan pengembangan komoditas agribisnis, yang bersifat spesifik komoditas, (ii) Sebagai wadah kepentingan masyarakat tani dan pelaku agribisnis, (iii) Sebagai formulasi upaya dan langkah-langkah operasional secara bertahap dan berkesinambungan dalam rangka pengembangan komoditas agribisnis.

Penelitian dilakukan menggunakan metode survai dan studi literatur, pengumpulan data menggunakan kuesioner melalui wawancara kepada responden (petani, petugas penyuluh pertanian, dan fungsional pengelola kelembagaan ekonomi).  Data dan informasi dianalisis menggunkan metode deskriptif kualitatif dan kuantitatif yang mengacu pada kebijakan pembangun-an pertanian nasional.

            Hasil penelitian adalah sebagai berikut :  (i) Tujuan pembangunan pertanian di Kota Pekalongan perlu mengacu dan sinkron dengan tujuan pembangunan pertanian nasional; (ii) Ketersediaan lahan pertanian (khususnya lahan sawah) di Kota Pekalongan semakin berkurang (seiring bertambahnya tahun), karena populasi dan kepentingan penduduk yang semakin meningkat; (iii) Produktivitas pertanian (padi, kacang hijau, buah-buahan dan peternakan) di Kota Pekalongan semakin meningkat seiring dengan kemajuan teknologi, (iv) Berdasarkan analisis finansial usahatani, komoditas-komoditas yang diusahakan oleh para petani di Kota Pekalongan pada umumnya menguntungkan dengan nilai profitabilitas yang relatif tinggi, kondisi ini mengindikasikan bahwa prospek agribisnis semakin positif; (v) Berkembangnya usaha dan sistem agribisnis di Kota Pekalongan, mempunyai manfaat yang besar terhadap pembentukan PDRB,  penyerapan tenaga kerja,  ketahanan pangan wilayah maupun nasional, serta terhadap pelestarian lingkungan hidup; (vi) Usaha dan sistem agribisnis di Kota Pekalongan harus di arahkan menjadi agribisnis yang mempunyai daya saing, berdasarkan kerakyatan,  berkelanjutan dan desentralistis; (vii) Strategi kebijakan pengembangan usaha dan sistem agribisnis di Kota Pekalongan perlu diorientasikan pada fokus utama, yaitu kebijakan peningkatan ketahan pangan dan kebijakan pengembangan agribisnis; (viii) Program peningkatan ketahanan pangan harus didukung oleh berbagai unit kerja pemerintah Kota Pekalongan, serta institusi swasta atau lembaga masyarakat yang mempunyai bidang kerja berkaitan dengan usaha peningkatan produksi komoditas pangan dan usaha pengembangan diversifikasi pangan; (ix) Program pengembangan agribisnis diarahkan agar seluruh subsistem agribisnis dapat secara produktif dan efisien menghasilkan berbagai produk pertanian yang memiliki nilai tambah dan daya saing tinggi di pasaran.   Bentuk-bentuk program tersebut antara lain sistem penyaluran sarana produksi pertanian secara efisien dan memihak kepada petani, sistem mpenentuan komoditas agribisnis unggulan, sistem penanganan pasca panen produk pertanian yang mampu mempunyai nilai tambah, sistem pemasaran produk primer maupun olahan yang efisien (mampu mendistribusikan keuntungan, resiko kepada semua pelaku secara adil dan proporsional).   Saran yang diajukan adalah Pemerintah Kota Pekalongan perlu melakukan tindak lanjut penyusunan road map agribisnis yang difokuskan pada komoditas-komoditas agribisnis unggulan secara parsial    

Kata Kunci : Road Map, Komoditas Agribisnis, Ketahanan Pangan.

 

SUMMARY

           The Road Map of Agribusiness Commodities Development in Pekalongan Municipality, Central Java, 2007. The aim of Road Map arranging were : (i)  as a planning instrument for agribusiness specific commodities development, (ii) as a importance coordinating institutions for farmers communities and agribusiness agent, (iii)  as a effort f ormulation and operational action in stage,  continuously and sustainability in the framework of agribusiness commodities development.

            Research have been done by survey method and literature studied, data obtained by interviewed with respondents (farmers, agriculture extension,  organizer functional of economic institutional) using questioner.  Data and information was analyzed by qualitative and quantitative descriptive method in term of development policy of national agriculture.

            Result of research showed that : the aim of  agriculture development  in  Pekalongan Municipality should refer and synchronize to the aim of  national agriculture development, namely  increasing of  food safety and agribusiness development; (ii) the decreasing of agricultural area availability (especially wet rice fields) in Pekalongan; (iii) the increasing of agricultural productivity along with technology development (paddy, small green pea, fruits and livestock); (iv) based on financial analysis farm management showed that the result of some agribusiness commodities was profit with the relatively high value, these indicate that agribusiness commodities positively prospective; (v) agribusiness development and agribusiness system contribute to Gross Regional Domestic Product  in Pekalongan Municipality, agricultural labor, regional and national of food safety and contribute to environmental sustainability and conservation; (vi) the agribusiness should be aimed to agribusiness competitive ability based on  the populist, sustainability and decentralistic; (vii) the policy strategy of agribusiness development and agribusiness system should be oriented on priority focus, namely the policy of increasing food safety and agribusiness development; (viii) the increasing program of food safety should be supported by government of Pekalongan Municipality, private sectors or community institution which have working orientation related to increase of food commodities production and development of food diversification; (ix) agribusiness development program aimed to increase the productivity and efficiency for all subsystem of agribusiness to get the agribusiness products which have added value and competitive ability. The formed of agribusiness development programs were agricultural input factors distribution which was efficient and regard to the farmers, the determining system of  qualities advantage agribusiness commodities, the handling system of agricultural post harvest which have added value, marketing system efficiency of primary and secondary products (able to distribute of profit, risks handling to all agribusiness agents in a equitable manner  and reasonable). The suggestion of research was : Pekalongan Municipality should follow-up the agribusiness road map arrangement focus on qualities advantage agribusiness in partial commodities.

Keywords : Road map, agribusiness commodities, food safety

STUDI KELAYAKAN PASAR HEWAN

Posted in KAJIAN ILMIAH with tags on 30 Mei 2009 by edypras

DSC02243 A

STUDI KELAYAKAN PENDIRIAN PASAR HEWAN MODERN DI KABUPATEN TEMANGGUNG JAWA TENGAH

(Dibiayai oleh Pemerintah Kabupaten Temanggung Jawa Tengah)

Oleh :

Edy Prasetyo, Wahyu Hidayat, Bambang Supriyadi, Abdul Rosyid, Titik Ekowati

RINGKASAN

Studi Kelayakan Pendirian Pasar Hewan Modern di Kabupaten Temanggung, Provinsi Jawa Tengah (2007).  Kegiatan ini merupakan Penelitian Studi Kelayakan, yang secara keseluruhan dilaksanakan pada Juli 2007 – Desember 2007.  Adapun tujuan kegiatan ini, ialah : (i) Mengkaji permasalahan, potensi dan kondisi eksisting yang dihadapi para petani ternak dalam melakukan penjualan/pemasaran maupun pembelian ternak; (ii) Menghitung dan mengetahui potensi ekonomis usahatani ternak, berdasarkan konsep pendapatan dan profitabilitas usahatani; (iii) Membuat konsep/model sistem pemasaran ternak yang mampu menciptakan transparansi dalam hal jenis ternak, bobot, kualitas, umur dan harga ternak, berdasarkan sistem lelang; (iv) Membuat site plan pembangunan pasar hewan modern; (v) Merumuskan model sistem pemasaran ternak modern terpadu yang mampu mengintegrasikan keterkaitan ke belakang (backward linkage) dan kaitan ke depan (forward linkage); (vii) Melakukan pendekatan aspek lingkungan dalam rangka mengetahui tingkat dukungan terhadap pendirian pasar hewan modern. Metode pendekatan yang digunakan ialah metode survai, analisis data primer dan data sekunder, partispasi aktif.

Hasil kegiatan studi : (i) Kabupaten Temanggung merupakan wilayah yang sesuai untuk pengembangan ternak; (ii) Eksistensi usahatani ternak pada umumnya masih diusahakan dengan orientasi sebagai usaha sampingan;  (iii) Teknologi tatalaksana yang diterapkan pada usahatani ternak, pada umumnya masih bersifat tradisional, dengan skala pemilikan yang kecil serta jenis ternak merupakan ternak lokal; (iv) Sebagian besar petani ternak belum memanfaatkan eksistensi pasar hewan sebagai media pemasaran ternaknya; (v) Terdapat berbagai pola pemasaran ternak (khususnya ternak sapi), namun pola I {petani ternak produsen à pedagang (blantik) à pasar ternak à pedagang (blantik) à petani ternak konsumen}, merupakan pola pemasaran yang dominan; (vi) Sistem pemasaran ternak secara rutin (setiap hari pasaran kliwon di pasar hewan Temanggung dan pasaran legi di pasar hewan Ngadirejo) pada saat ini masih bersifat tradisional;  (vii) Tingkat pendapatan pada usahatani ternak sapi potong, sapi perah, kambing dan ternak domba masing-masing mempunyai nilai positif, dengan profitabilitas secara berurutan sebesar 42,81 %, 184,08 %, 91,60 % dan 74,12 %; (viii) Pemasaran ternak menggunakan sistem lelang merupakan sistem yang sesuai diterapkan untuk meningkatkan posisi dan kekuatan tawar petani; (ix) Rencana pendirian pasar hewan modern di Desa Catur Anom, Kecamatan Parakan, Kabupaten Temanggung, merupakan pasar hewan yang mengakomodasikan fasilitas utama dan fasilitas penunjang pasar hewan secara lengkap; (x) Pengembangan Sistem Pasar Hewan Modern dengan pendekatan Backward linkage, Pasar Hewan dan Forward linkage dimaksudkan untuk meningkatkan kegunaan atas utilitas yang menjadi konsep model pasar tersebut;  (xi) Ditinjau dari sisi tanggapan, sikap dan persepsinya masyarakat terhadap rencana pendirian pasar hewan modern pada prinsipnya menyatakan setuju dan mendukung, dengan catatan : tetap harus memperhatikan kaidah ramah lingkungan, ekosistem mata air, khususnya melalui aliran Sungai galeh harus tetap dijaga kelestariannya, dapat menciptakan multiplier effect yang positif terhadap perekonomian wilayah, bila terjadi aktivitas pembebasan lahan, maka dalam penerapan ganti-rugi harus di dasarkan pada kaidah kelayakan (sesuai mekanisme pasar), pembangunan pasar hewan modern agar diantisipasi jangan sampai merugikan masyarakat, khususnya petani ternak, dan bila timbul dampak negatif maka diperlukan eksistensi mitra kerja di lingkungan masyarakat yang berperan sebagai fasilitator.

Kata Kunci : Studi kelayakan, pemasaran ternak, site-plan, pasar hewan.

SISTEM PEMASARAN TERNAK MODERN

Posted in KAJIAN ILMIAH with tags on 30 Mei 2009 by edypras

IMG_1491A

PENGEMBANGAN SISTEM PASAR TERNAK MODERN (TERNAK SAPI) DI AMBARAWA KABUPATEN SEMARANG PROVINSI JAWA TENGAH  {The Modern Livestock Market System Development (Beef Cattle) in Ambarawa, Semarang Regency, Central Java}

(Kerjasam Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian dengan Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Diponegoro)

Oleh :

Edy Prasetyo, Fadjar Wahyono, Titik Ekowati, Bambang Trisetyo Eddy, Bambang Supriyadi

RINGKASAN

LPM UNDIP, 2006. Pengembangan Sistem Pasar Ternak Modern (Ternak Sapi) di Ambarawa Kabupaten Semarang Provinsi Jawa Tengah (Kerjasama  Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian dengan Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Diponegoro).

Kegiatan ini merupakan kegiatan Penelitian, Pemberdayaan Masyarakat, Uji Coba Implementasi Pemasaran Ternak, dan Pendampingan, yang secara keseluruhan dilaksanakan pada Juli 2006 – Desember 2006.  Adapun tujuan kegiatan ialah : (i) Melakukan kajian terhadap permasalahan, potensi dan kondisi Pasar Ternak Ambarawa; (ii) Menganalisis permasalahan yang dihadapi oleh petani ternak; (iii) Mengkaji berbagai aspek yang mempunyai fungsi potensial terhadap pengembangan pasar ternak; (iv)  Merumuskan model sistem pasar ternak modern  yang mampu mengintegrasikan backward linkage dan forward linkage; (v) Melakukan uji coba implementasi pemasaran ternak menggunakan sistem lelang;  (vi) Melakukan pendampingan pembangunan fisik pasar ternak Ambarawa.  Metode pendekatan yang digunakan ialah metode survai, analisis data sekunder, partispasi aktif (sosialisasi, pemberdayaan masyarakat dan pendampingan), serta action research.

Hasil kegiatan ialah : (i) Berdasarkan agroekosistem, wilayah Kabupaten Semarang cocok sebagai sentra pengembangan dan produksi ternak sapi; (ii) Pemasaran ternak di Pasar Ternak Ambarawa  masih bersifat tradisional yang diselenggarakan setiap hari pasaran pon; (iii). Agar implementasi sistem pasar ternak  dapat meningkatkan manfaat  bagi pelaku pasar, maka diperlukan perangkat keras, perangkat lunak, sarana dan prasarana serta sumberdaya pengelola pasar melalui pendekatan sistem; (iv) Terdapat berbagai macam pola pemasaran ternak (sapi), namun pola petani ternak produsen à pedagang (blantik) à pasar ternak à pedagang (blantik) à petani ternak konsumen, merupakan pola pemasaran yang dominan; (v) Sosialisasi, pelatihan dan pemberdayaan petani ternak tentang pengembangan sistem pemasaran ternak modern, memperoleh tanggapan yang positif dari para petani ternak; (vi)  Eksistensi GAPOKTAN Ternak sangat dibutuhkan; (vii) Uji coba implementasi pemasaran ternak menggunakan sistem lelang  memperoleh dukungan dan respon yang positif dari berbagai pihak (Instansi Teknis Terkait, Petani Ternak Produsen, Petani Ternak Konsumen,  GAPOKTAN Ternak, serta Petugas Penyuluh Peternakan); (viii) Pembangunan fisik Pasar Ternak Ambarawa pada tahun anggaran 2006 sesuai dengan master plan yang telah di buat.

Sedangkan saran yang diajukan ialah : (i) Sistem pemasaran ternak perlu segera dikembangkan menjadi sistem pemasaran ternak modern dengan menggunakan sistem lelang; (ii) Eksisten GAPOKTAN Ternak perlu dikembangkan dan diikuti munculnya GAPOKTAN-GAPOKTAN yang lain;  (iii) Perencanaan pembangunan fisik pasar ternak Ambarawa pada 2007 perlu memperhatikan sistem sanitasi lingkungan, kapasitas daya tampung pasar ternak terhadap ternak  dan penertiban bangunan liar di Pasar Ternak, (iv) Perlu adanya kegiatan pendampingan secara intensif dan berkesinambungan untuk pengem-bangan dan pembinaan GAPOKTAN Ternak serta pengembangan sistem pasar ternak modern  menggunakan sistem lelang.

Kata Kunci : Sosialisasi, pemberdayaan, pendampingan, pembentukan GAPOKTAN, uji coba pemasaran ternak, sistem lelang.

S U M M A R Y

LPM UNDIP, 2006. The Modern Livestock Market System Development (Cattle) in Ambarawa, Semarang Regency, Central Java (in cooperation between Directorate General of  Agricultural Processing and Marketing and The Community Service Institute, Diponegoro University).

The activities of study were research, community empowerment, try-out livestock marketing implementation and assistance which was done on July – December 2006. The aims of activity were : (i) to investigate the problems, potentials and conditions of Ambarawa Livestock Market; (ii) to analyse farm-breeder’s problems; (iii) to examine of some aspects that were potentials for livestock market development; (iv) to formulate the modern livestock market system that be able to integrate between backward linkage and forward linkage; (v) to do try-out of livestock market implementation by sell at auction system and (vi) to do the assistance for Ambarawa livestock market physical construction. The approach methods for study were survey method, secondary data analyses and active participation (socialization, community empowerment and assistance) and action research.

The results of study were (i) Semarang Regency  was suitable area as a centre for cattle livestock production and development; (ii) Livestock market in Ambarawa still use the traditional market system  which was held on certain day (“Pasaran Pon”); (iii) some facilities such as soft ware; hard ware; infrastructure and market’s organizer resources through the system approach were needed in order to develop and increase the market functions; (iv) there were some marketing channels of cattle, but the channels from farm-breeder producer → merchant (middlement in livestock) → livestock market → middlement in livestock → farm-breeder consumer was dominant marketing channels; (v) socialization, training and farm-breeder empowering of modern livestock market system development get the positive reponse from farm-breeder; (vi) the Grouping of Farmer’s Group existance (“GAPOKTAN”) is needed; (vii) the try-out of sell at auction system livestock market implementation obtain the support and positive response  from related institution; farm-breeder producer; farm-breeder consumer; “GAPOKTAN” and the extantion field; (viii) the physical construction of Ambarawa livestock market  in year of 2006 is suitable from the master plan.

Some suggestions for the study are : (i)  the livestock market system shoud be developed to modern livestock market system by sell at auction market system; (ii) the existance of “GAPOKTAN” should be developed and followed by others “GAPOKTAN”; (iii) the physical construction plan of Ambarawa livestock market in year of 2007 should pay attention to the environment sanitation system, livestock market capacity and controlling the livestock market illegal building. (iv) the assistance intensively and continously  is needed to develop modern livestock market system by sell at auction and “GAPOKTAN” establishment.

Key words : socialization,  empowerment,  assistance,  “GAPOKTAN”,  livestock Market  try-out,  sell at auction.

AGRIBISNIS PETERNAKAN

Posted in KAJIAN ILMIAH with tags on 30 Mei 2009 by edypras

Kambing CA

 MODEL MANAJEMEN PERMODALAN DAN MANAJEMEN AGRIBISNIS SEBAGAI UPAYA PENGEMBANGAN PETERNAKAN RAKYAT DI JAWA TENGAH (The Financial Capital and Agribusiness Management Models to Developed The Farmers Animal Agricultural in Central Java).

 (Penelitian Hibah Bersaing DP2M Dikti Depdiknas 2006

Oleh :

Edy Prasetyo, Srijanto Dwidjatmiko, Wulan Sumekar, Titik Ekowati, Mukson (Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro)

  

RINGKASAN 

A.  JUDUL PENELITIAN DAN NAMA PENELITI  :

  1. Judul Penelitian  : Model Manajemen Permodalan dan Manajemen Agribisnis Sebagai Upaya Pengembangan Peternakan Rakyat di Jawa Tengah.
  2. Peneliti : Edy Prasetyo, Srijanto Dwidjatmiko, Wulan Sumekar, Titik Ekowati, dan Mukson.
  3. Tahun Penulisan/Jumlah Halaman : 2006 / 119 halaman.

B.     I S I  :

  1. Propinsi Jawa Tengah secara fisik, sosial dan ekonomis mempunyai potensi sebagai sentra produksi dan pengembangan ternak.  Di lain pihak petani ternak rakyat sebagai pelaku usahatani ternak mempunyai keterbatasan dalam berbagai hal, khususnya modal usahatani, pengetahuan, manajemen agribisnis sehingga hasil usahatani ternaknya bila ditinjau dari efisiensi ekonomis maupun efisiensi teknis belum optimal.
  2. Tujuan Penelitian : (i) Melakukan evaluasi penerapan manajemen agribisnis pada tingkat petani ternak, pasca sosialisasi modul manajemen agribisnis melalui kegiatan penyuluhan; (ii) Malakukan evaluasi terhadap biaya produksi, penerimaan, pendapatan, dan profitabilitas pada usahatani ternak rakyat.  Kegiatan evaluasi dalam hal ini dilakukan dengan cara membandingkan biaya produksi, penerimaan, pendapatan, dan profitabilitas dari hasil penelitian Tahap I (2004) dengan hasil penelitian Tahap Akhir (2006); (iii) Mengetahui peranan/pengaruh unsur-unsur manajemen agribisnis terhadap tingkat pendapatan petani ternak di Jawa Tengah.
  3. Metode penelitian yang digunakan ialah metode survai pada tingkat petani ternak rakyat, yang meliputi petani ternak sapi perah, sapi potong, kambing, domba, ayam ras pedaging, ayam bukan ras, dan petani ternak itik petelur.  Metode penentuan sampel  yang digunakan adalah Purposive Stratifioed Quota Sampling, dengan jumlah sampel sebanyak 140 responden yang dipilih pada 7 kabupaten di Jawa Tengah. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara langsung kepada petani ternak berdasarkan kuesioner yang telah dipersiapkan.  Data yang digunakan merupakan data primer dari petani ternak, dan didukung data sekunder yang diperoleh dari laporan-laporan yang ada kaitannya.  Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif dan deskriptif kuantitatif (analisis penerapan manajemen agribisnis, analisis pendapatan dan profitabilitas, serta analisis regresi linier berganda).   
  4. Hasil Penelitian dan Kesimpulan. Pasca sosialisasi modul penerapan manajemen agribisnis dan penyuluhan, dapat ditarik hasil penelitian yang sekaligus merupakan kesimpulan sebagai berikut  :  (i) Sebagian besar petani ternak dalam menerapkan manajemen agribisnis dapat dikatagorikan dalam kondisi baik,  namun dalam hal akses terhadap jasa penunjang pada petani ternak sapi perah dalam kondisi sedang, demikian pula kegiatan perencanaan agribisnis pada petani ternak sapi potong, pengadaan sarana produksi ternak dan akses jasa penunjang pada petani ternak kambing, serta akses jasa penunjang agribisnis pada petani ternak ayam bukan ras dan petani ternak itik petelur;  (ii) Tingkat skala usaha ternak rata-rata pada setiap petani ternak  terjadi penurunan pada petani ternak sapi perah, sapi potong, kambing, domba, dan petani ternak ayam bukan ras, sadangkan pada petani ternak ayam ras pedaging dan itik petelur terjadi peningkatan;  (iii) Tingkat pendapatan usahatani ternak rata-rata pada setiap petani ternak terjadi penurunan pada petani ternak sapi perah, kambing, domba, dan petani ternak ayam bukan ras, namun terjadi peningkatan pada petani ternak sapi potong, ayam ras pedaging, dan petani ternak itik petelur;  (iv) Nilai profitabilitas rata-rata pada setiap petani ternak terjadi penurunan pada petani ternak sapi perah, namun terjadi peningkatan pada petani ternak sapi potong, kambing, domba, ayam ras pedaging, ayam bukan ras, dan pada petani ternak itik petelur;  (v) Secara statistik unsur-unsur manajemen agribisnis tidak berpengaruh signifikan terhadap tingkat pendapatan usahatani ternak rakyat.       
  5. Saran yang diajukan pada hasil penelitian ini, ialah : (i) Perlu adanya penelitian tentang pengaruh penerapan manajemen agribisnis terhadap pendapatan petani ternak rakyat berdasarkan intensitas penyuluhan dan penggunaan alat peraga penyuluhan yang berbeda-beda; (ii) Walaupun penerapan manajemen agribisnis secara statistik tidak berpengaruh signifikan terhadap tingkat pendapatan petani ternak, namun eksistensinya tetap dibutuhkan seiring dengan tingkat kemajuan teknologi usahatani ternak. 

C.         IDENTITAS KELEMBAGAAN : 

Program Studi Sosial Ekonomi Peternakan, Fakultas Peternakan, Universitas Diponegoro, Lembaga Penelitian Universitas Diponegoro, dengan Surat Perjanjian Pelaksanaan Penelitian Nomor : 319/SP3/PP/DP2M/II/2006.  

   

 

SUMMARY 

A.   TITLE AND RESEARCHER

  1. Title :  The Financial Capital and Agribusiness Management Models to Developed The Farmers Animal Agricultural in Central Java.
  2. Researchers: Edy Prasetyo; Srijanto Dwidjatmiko; Wulan Sumekar; Titik Ekowati and Mukson.
  3. Year of report: 2006 and the number of pages: 119. 

B.  CONTENS :

  1. Central Java physically, socially and economically has a potential as a production center and animal agricultural development.  In another hand, the farmers as a farm agent have some constraints, such as financial capital, knowledge and management, consequently, the economical and technical efficiency of the agribusiness production have not been optimum yet.
  2. The aims of research: (i) To evaluation  the actual implementation of agribusiness management to the farmers, after to empower with agribusiness management training; (ii) To evaluation about the cost production, revenue, income and profitability of the farmers.  The evaluation activity by to compare of the result of first part research  (2004) with of the result of last part research;   (iii) To know the influence of agribusiness management factors to farmers profit at Central Java.
  3. Survey were used as a research method and to get data on the dairy farm, beef cattle farm, goat farm, sheep farm, broiler farm, native chicken farm and duck farm.  Purposive stratified quota sampling  is a method for identifies the number respondents.  140 responmdents are chosen whose distribute into 7 regions in Central Java.  Using questioner has held interview with respondents by using questioner for obtaining data.  The kinds of data are primary and secondary data.  Data are analyzed  by qualitative and quantitative description  (analysis of agribusiness management implementation, analysis of income and profitability, and analysis of multiple linear regression).  
  4. The result and the research  conclusion.  Post socialization module of agribusiness management implementation  and extension, the result and research conclusion are : (i) Most farmers can be categorized good condition at implementation of agribusiness management, but they are categorized in average condition at access of supporting service to goat farm, activity of agribusiness planning to beef cattle, supply of livestock production facilities, access of supporting service to goat farm, access of supporting service to native chicken farm and to duck farm;  (ii) The animal agricultural scale level each farmer on the average is decrease at dairy farm, beef cattle farm, goat farm, sheep farm and native chicken farm, where as it is increase at briler farm and duck farm;  (iii) The animal agricultural farmer’s income level on the average is decrease at dairy farm, goat farm, sheep farm and native chicken farm.  But, it is increase at beef cattle farm, broiler farm and duck farm;  (iv) Provitability value on average each farmer is decrease at dairy farm, but is increase at beef cattle farm, goat farm, sheep farm, broiler farm, native chicken farm, and duck farm;  (v) The elements of agribuisiness management implementation do not effect significantly to income level of livestock farmer.
  5. Research suggestion : (i) Research of agribusiness management implementation effect to livestock farmer’s income based on extension intensity and facilitation extension used is needed;  (ii) Although agribusiness management implementation do not influence siginificantly to animal agricultural farmer’s income, it’s existence is needed together with progress of livestock farmer technology.  

C. INSTITUTION IDENTITY :

Social Economic Study Programmed, Animal Agriculture Faculty, Diponegoro University, Research Institute Diponegoro University, No of contract : 319/SP3/PP/DP2M/II/2006.

AGRIBISNIS PETERNAKAN

Posted in KAJIAN ILMIAH with tags on 23 Mei 2009 by edypras

DSC02698 A MODEL MANAJEMEN PERMODALAN DAN MANAJEMEN AGRIBISNIS SEBAGAI UPAYA PENGEMBANGAN PETERNAKAN RAKYAT DI JAWA TENGAH (The Financial Capital and Agribusiness Management Models to Developed The Farmers Animal Agricultural in Central Java).

(Penelitian Hibah ersaing DP2M Dikti Depdiknas 2004)

Oleh :

Edy Prasetyo, Srijanto Dwidjatmiko, Wulan Sumekar, Titik Ekowati, Mukson (Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro)

RINGKASAN

A. Judul Penelitian dan Nama Peneliti :

  1. Judul Penelitian : MODEL MANAJEMEN PERMODALAN DAN MANAJEMEN AGRIBISNIS SEBAGAI UPAYA PENGEMBANGAN PETERNAKAN RAKYAT DI JAWA TENGAH.
  2. Peneliti : Edy Prasetyo, Srijanto Dwidjatmiko, Wulan Sumekar, Titik Ekowati, dan Mukson.
  3. Tahun penulisan 2004,  Jumlah 93 halaman.

B. I s i  :

  1. Di lain pihak petani sebagai pelaku usahatani ternak mempunyai keterbatasan dalam hal permodalan, tingkat pengetahuan, manajemen (agribisnis dan permodalan) sehingga hasil usahatani ternak ditinjau dari efisiensi ekonomis maupun teknis belum optimal.
  2. Tujuan Penelitian :   (i) Melakukan identifikasi tentang cara, sumber dan kendala-kendala untuk memperoleh permodalan pada usahatani ternak rakyat; (ii) Melakukan identifikasi tentang arah, dan permasalahan dalam alokasi  permodalan pada usahatani ternak rakyat; (iii) Melakukan analisis tentang kinerja permodalan (khususnya biaya produksi)  usahatani ternak rakyat.
  3. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif dan analisis deskriptif kuantitatif (analisis pendapatan dan rentabilitas usahatani ternak).
  4. Hasil Penelitian dan Kesimpulan :  (i) Dari 14 kabupaten sebagai lokasi penelitian, 10 kabupaten diantaranya menunjukkan bahwa subsektor peternakan merupakan subsektor basis bagi pertumbuhan ekonomi wilayah (Location Quotient > 1,00) dan  4 kabupaten yang lain menunjukkan bahwa subsektor peternakan bukan merupakan subsektor basis; (ii) Karakteristik petani ternak menunjukkan bahwa 80,06 % berusia produktif (30 – 60 th), tingkat pendidikan sebesar 53,18 % hanya sampai tingkat SD, 22,54 % tingkat SLTP, dan 24,28 % tingkat SLTA atau lebih, matapencaharian utama petani ternak sebagian besar (73,70 %) sebagai petani,  sebagian besar (65,02 %) mempunyai  pengalaman melakukan usahatani ternak selama ≤ 10 th, dan jumlah tanggungan keluarga sebagaian besar (83,24 %) sebanyak ≤ 5 jiwa;  (iii) Sumber perolehan modal untuk biaya produksi usahatani ternak sebagian besar diperoleh dari hasil usahatani, cara alokasi modal sebagian besar belum memanfaatkan fungsi manajemen keuangan khususnya fungsi perencanaan (terkecuali pada usahatani ternak ayam ras petelur, ayam ras pedaging pola kemitraan, dan usahatani ternak itik petelur),  sedangkan sebagai kendala perolehan dan pemanfaatan modal usahatani adalah ketersediaan yang terbatas jumlahnya;  (iv) Pendapatan usahatani ternak yang diperoleh petani ternak secara keseluruhan menguntungkan, dengan pendapatan terbesar diperoleh pada usahatani ternak ayam ras petelur sebesar Rp 533.422.225,00/7.635 ekor/th dan yang terkecil pada usahatani ternak kambing sebesar Rp 878.875,00/7 ekor/th, sedangkan nilai rentabilitas usahatani ternak dari yang terbesar secara berurutan adalah pada usahatani ternak ayam ras petelur sebesar 112,06 %; sapi perah 87,41 %; kambing 68,04 %; domba 43,01 %,; sapi potong 25,08 %; ayam buras 21,02 %,; itik petelur 14,92 %; ayam ras pedaging pola mandiri 4,43 % dan pada usahatani ternak ayam ras pedaging pola kemitraan sebesar 2,65 % pertahun.

Identitas Kelembagaan : Program Studi Sosial Ekonomi peternakan, Fakultas Peternakan, Universitas Diponegoro, dengan Nomor Kontrak : 015/P4T/DPPM/PHBXII/III/2004 Tanggal 1 Maret 2004.